Aziil Anwar - Menumbuhkan Mangrove di Lahan Kritis

Siang itu, sebuah kijang super melaju dengan kecepatan sedang, melintasi jalan aspal berliku Majene, Sulawesi Barat. Di balik kemudi tampak seorang lelaki jangkung dengan rambut ikal yang mulai memutih. Aziil Anwar,  begitulah nama yang diberikan oleh orang tua pria paruh baya itu. Sambil sesekali bercanda, Aziil mengemudi dengan stabil menuju salah salah satu sekolah menengah pertama di Kabupaten Majene. 

Di sekolah tersebut, pria yang pernah meraih penghargaan pemuda pelopor pada tahun 1993 dari Presiden Soeharto itu langsung disambut dengan beberapa murid-murid yang antusias. Sudah menjadi kebiasaan Aziil menjemput beberapa anak-anak sekolah untuk diajak mengunjungi tempat restorasi mangrove yang sudah dikelolanya sejak tahun 1990. Dia ingin terus berbagi informasi tentang manfaat mangrove dan tanggung jawab generasi mendatang untuk ikut menjaga benteng alam tersebut. Anak-anak sekolah itulah yang nantinya akan menggantikan dia dalam menjaga lingkungan di Desa Binanga. 

 

Mangrove memang menjadi passion Aziil sejak lama. Pada era 80 hingga 90an, sebagai pendatang, pria asli Ternate yang ketika itu berprofesi sebagai penyuluh kehutanan ini melihat pesisir pantai Desa Binanga dalam kondisi yang memprihatinkan. Tumbuhan mangrove mulai hilang karena ranting-rantingnya digunakan sebagai kayu bakar. Karang-karang di pesisir pun mati karena pengeboman atau racun ikan. Saat itulah keinginan untuk memperbaiki kawasan pesisir itu muncul. Di tahun 1990, dia membentuk Yayasan Pemuda Mitra Masyarakat Desa (YPMMD) bersama rekan-rekannya. Untuk kembali menumbuhkan mangrove di pesisir Desa Binanga, Aziil dan beberapa temannya memungut bibit yang berserakan di pantai. Secara alaminya bibit-bibit mangrove yang juga adalah bagian buahnya itu akan jatuh ke air dan terbawa arus. 

Menumbuhkan mangrove di Desa Binanga, bukan hal yang mudah. Di beberapa bagian, mangrove memang dapat tumbuh dengan baik, tetapi penerima Kalpataru pada tahun 2003 ini harus memutar otak melihat hamparan karang mati yang langsung berhadapan dengan pantai. Lokasi ini menjadi sangat rawan terhadap tsunami, seperti yang pernah menerjang Majene pada tahun 1969. 

Di tengah kebingungannya itu, dia melihat di ujung hamparan karang mati itu, tampak sekilas tumbuhan mangrove tumbuh. Hal tersebut membuatnya semakin penasaran, ditambah lagi dengan adanya hasil penelitian seorang peneliti dari Jogja yang berhasil menumbuhkan mangrove di daerah karst. Berbekal rasa penasaran itu, dia mulai mengulik cara menanam mangrove di karang mati. 

Akhirnya dia menemukan cara dengan melubangi karang mati tersebut dan diberikan sedikit tanah sebagai pemancing agar mangrove dapat tumbuh. Pada bulan-bulan awal, pertumbuhan mangrove harus diperhatikan. Luka pada batang mangrove bisa membuat tumbuhan itu mati, kemudian kerang dan tiram juga harus disingkirkan dari daun dan batang mangrove. 

Menumbuhkan mangrove di karang mati inilah yang menjadi keunikan Aziil. ‘Mangrove on Rock’ begitu sang penerima Satyalencana pada tahun 2013 itu menamai programnya. Dari lahan yang semula banyak yang menyangsikan akan dapat ditumbuhi mangrove, Azil membuktikan sebaliknya.

Sejak dibentuk di tahun 1990, YPMMD sudah berhasil menanam ratusan ribu mangrove di area seluas 60 hektar. Selain itu, pada tahun 2005, Aziil mulai membuat kebun bibit yang pada perkembangannya mampu menghasilkan delapan jenis bibit. Pembibitan ini juga mulai memutar roda ekonomi di Desa Binanga. Bibit yang dihasilkan kelompok Aziil merupakan pensupply utama bagi bibit di seluruh Sulawesi Barat. Hasil dari penjualan tersebut juga dinikmati oleh warga sekitar yang ikut membantu. Mengetahui potensi mangrove tersebut, masyarakat sekitar yang tadinya tidak peduli, justru menjadi semangat untuk berpartisipasi. Kemudian dari sisi lingkungan, ekosistem mangrove yang sudah terbangun mengundang kembali biota lain yang sebelumnya enggan berada di pesisir Desa Binanga. 

Selain berkonsentrasi pada budidaya mangrove dan mencoba mengembalikan fungsi ekosistem mangrove di daerahnya, Aziil juga gencar melakukan kampanye dan edukasi kepada generasi muda. Selain mengajak siswa-siswa untuk berkunjung ke lokasi penanaman mangrovenya untuk ikut membersihkan sampah dan belajar tentang mangrove, Aziil juga menggunakan sosial media sebagai alat untuk menyebarkan informasi. Kordinasi dengan mudah dia lakukan dengan Facebook. Sekali ‘klik’ pesan untuk melakukan aksi bersih-bersih mangrove atau penanaman dalam sekejap terkirim. Anak-anak muda juga antusias untuk ikut berpartisipasi. Dalam berbagi ilmu, Aziil tidak pelit. Dia tidak hanya mengajarkan tentang potensi dan manfaat mangrove tetapi jika kemampuan menggunakan computer dan internet.

Didukung Oleh