Agustinus Sasundu - Bambu, Suara Merdu dari Sangihe

Bambu sudah sangat melekat pada tradisi Indonesia. Tumbuhan yang mampu memurnikan air di sekitarnya ini sangat dikenal sebagai bahan baku perkakas yang mudah dibentuk dan cenderung tahan lama. Selain itu, dengan rebungnya, bambu juga dikenal sebagai sumber makanan. 

Akan tetapi, karena kelenturan dan bentuk fisik yang berongga, tumbuhan ini sering digunakan sebagai alat musik. Suling adalah salah satu bentuk alat musik bambu yang paling umum dan banyak sekali ditemukan. Masyarakat sunda sangat kental dengan suling, begitu juga dengan masyarakat Jawa atau daerah di pulau yang lain. Bergerak lebih ke utara, musik bambu justru menjadi bagian kuat dari tradisi kesenian Kepulauan Sangihe.

 

Kabupaten kepulauan yang berada di sisi utara Indonesia ini ternyata menyimpan khasanah musik bambu yang unik. Bambu khas daerah itu dibentuk sedemikian rupa menjadi beragam alat musik tiup. Konon khasanah bermusik ini sudah ada sejak nenek moyang orang-orang Sangihe. Alat musik bambu di Sangihe awalnya sangat sederhana. Dia kemudian mengembangkannya hingga menjadi seperti saat ini. "Dahulu hanya ada satu jenis alat musik bambu yang dimainkan yang disebut Suling," ujarnya. Alat musik bambu sampai saat ini sudah mengalami 3 perubahan bentuk. Dari hanya suling saja, lalu berkembang menjadi berbagai jenis alat seperti korno, klarinet, trombon, bambu tengah dan bas. Masing-masing alat musik tiup tersebut memiliki peran sehingga mencul harmonisasi indah ketika digabungkan dalam satu 'tumpukan', sebutan orang Sangihe untuk merujuk pada grup musik bambu. Dalam satu tumpukan terdapat 20 sampai 40 orang.

Dalam tradisi masyarakat Sangihe, musik bambu menjadi ikon yang disajikan. Terlebih lagi pada acara-acara besar. Bahkan, saat ini masing-masing desa memiliki tumpukan musik bambunya sendiri yang kemudian bertanding dengan desa yang lainnya. Salah satunya adalah dalam budaya Masamper. Pada perhelatan ini, grup dari berbagai desa bertanding dalam lagu dan musik. Mereka saling berbalas lirik dan musik. Pemerintah daerah Sangihe sengaja mendorong musik bambu ini sebagai salah satu identitas daerahnya. 

Agustinus Sasundu yang bukan asli Sangihe merasa perlu mengembangkan musik bambu ini karena mampu memberdayakan masyarakat. Melalui bengkel musik bambu, masyarakat sudah bisa terlibat dalam pembuatan alat-alat musiknya. Cara pembuatannya pun cukup rumit. Prosed dimulai dari penebangan, lalu pengeringan dan terakhir pembuatan. Diperlukan waktu sekitar 1 bulan untuk membuat 40 alat musik yang dikerjakan oleh 1 sampai 3 orang. Kemudian, musik-musik bambu tersebut dapat dijual pada kelompok-kelompok musik yang membutuhkan. Pasar selalu terbuka untuk musik bambu, karena berkat usaha Agustinus dan berbagai kelompok yang lain, permainan musik bambu masih lestari hingga saat ini.

Dari sisi sosial, musik bambu yang terus dipromosikan oleh Agustinus mampu meredam gejolak-gejolak sosial yang terjadi. Bahkan mereka yang berasal dari status sosial dan agama yang berbeda pun dapat bersatu dalam memainkan alat musik ini. "Mereka bisa rukun dan saling membantu," katanya. Selain itu, dari sisi konservasi, masyarakat menjadi lebih memberikan apresiasi pada bambu. Mereka cenderung akan memanfaatkan bambu tersebut sesuai kebutuhan karena mengetahui bahwa bambu Sangihe dapat menjadi bahan baku alat musik tradisional mereka.

Didukung Oleh