KeSEMaT (Kelompok Studi Ekosistem Mangrove Teluk Awur) - Mangrove untuk Gaya Hidup

"Kami ingin menjadikan mangrove sebagai gaya hidup," kata Presiden KeSEMaT (Kelompok Studi Ekosistem Mangrove Teluk Awur), Dinuarca Endra Wasistha dengan penuh keyakinan. Sesuai dengan namanya, organisasi yang dia pimpin memang lekat dengan penelitian, konservasi, industri kreatif dan kampanye mangrove. Sebagai sebuah Unit Kegiatan Kemahasiswaan di Jurusan Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro, Semarang kegiatan yang dilakukan KeSEMat lebih dari yang dibayangkan. Mereka berhasil mendirikan CV KeMANGI yang menjual produk-produk industri kreatif berbahan mangrove, mendirikan Yayasan Ikatan Alumni KeSEMaT (IKAMaT), dan menggalang relawan melalui KeSEMaT Mangrove Volunteer (KeMANGTEER) yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. 

KeSEMaT berawal dari kegelisahan 9 orang mahasiswa Ilmu Kelautan yang khawatir dengan rusaknya ekosistem mangrove di Teluk Awur, Jepara. Kebetulan wilayah tersebut masih berada di dalam kawasan Universitas Diponegoro sehingga intervensi pada ekosistem mangrove tersebut untuk dilakukan konservasi bisa segera dilakukan. Pada tahun 2001 itulah mereka membentuk KeSEMaT. Mereka kemudian mencoba menggabungkan apa yang mereka dapat dari mata kuliah terkait konservasi mangrove dengan program-program organisasi yang meliputi pengajaran, penyuluhan, pembibitan, penanaman dan pemeliharaan mangrove serta pemberdayaan masyarakat pesisir. Selama kurun waktu 2003 sampai dengan 2012 ini, maka KeSEMaT telah menanam kurang lebih 100.000 bibit mangrove di berbagai pesisir di Jawa.

Read more: KeSEMaT (Kelompok Studi Ekosistem Mangrove Teluk Awur) - Mangrove untuk Gaya Hidup

Aziil Anwar - Menumbuhkan Mangrove di Lahan Kritis

Siang itu, sebuah kijang super melaju dengan kecepatan sedang, melintasi jalan aspal berliku Majene, Sulawesi Barat. Di balik kemudi tampak seorang lelaki jangkung dengan rambut ikal yang mulai memutih. Aziil Anwar,  begitulah nama yang diberikan oleh orang tua pria paruh baya itu. Sambil sesekali bercanda, Aziil mengemudi dengan stabil menuju salah salah satu sekolah menengah pertama di Kabupaten Majene. 

Di sekolah tersebut, pria yang pernah meraih penghargaan pemuda pelopor pada tahun 1993 dari Presiden Soeharto itu langsung disambut dengan beberapa murid-murid yang antusias. Sudah menjadi kebiasaan Aziil menjemput beberapa anak-anak sekolah untuk diajak mengunjungi tempat restorasi mangrove yang sudah dikelolanya sejak tahun 1990. Dia ingin terus berbagi informasi tentang manfaat mangrove dan tanggung jawab generasi mendatang untuk ikut menjaga benteng alam tersebut. Anak-anak sekolah itulah yang nantinya akan menggantikan dia dalam menjaga lingkungan di Desa Binanga. 

Read more: Aziil Anwar - Menumbuhkan Mangrove di Lahan Kritis

CV Arum Ayu - Berbagi Semangat Melalui Pangan Lokal

Cekatan, tangan Ambarwati Esti mengulas krim diatas cake warna-warni itu. Cepat, ujung-ujung jarinya bergerak mengambil strawberry dan jeruk ditas cake yang sudah disusun bertumpuk rapi. Dalam sekejap, wanita yang sempat mengenyam pendidikan di jurusan hukum sudah selesai menghias rainbow cake yang dibuat saat itu juga. 

Selesai dengan rainbow cake, Ambarwati dan dua orang ibu binaannya beralih pada produk makanan yang lain. Dalam waktu singkat, bakpao isi durian, risoles, cake gulung, sudah siap dihidangkan. Sekilas, tidak ada yang berbeda dari tampilan makanan-makanan itu, rasanya pun cenderung seperti apa adanya. Perbedaan mendasar dari makanan yang dibuat oleh ibu dua anak itu adalah bahan bakunya. Jika pada umumnya rainbow cake, cake gulung, risoles, atau bakpao menggunakan tepung gandum, maka makanan buatan CV Arum Ayu justru menggunakan tepung dari sumber pangan lokal, seperti singkong, ganyong, garut, sukun atau yang lain. Kreatifitas membawa pangan lokal tidak hanya berwujud singkog atau ubi rebus tetapi justru tampil menjadi panganan modern. 

Read more: CV Arum Ayu - Berbagi Semangat Melalui Pangan Lokal

Ir. Januminro - Pengelolaan Hutan Gambut Hak Milik ‘Jumpun Pambelom’

Dalam sejarah kebakaran hutan di Indonesia, peristiwa di tahun 1997 - 1998 termasuk yang terbesar. Kebakaran yang melanda berbagai wilayah, termasuk pulau Kalimantan tersebut telah menghancurkan berhektar-hektar hutan gambut. Di Palangkaraya, kebakaran tersebut merusak hutan gambut di sisi Jalan Lintas Kalimantan (jalan yang menghubungkan Palangkaraya dan Banjarmasin). Kerusakan tidak hanya menghancurkan secara fisik hutannya saja, tetapi juga perekonomian masyarakat sekitar.

Kejadian memilukan inilah yang kemudian mendorong Ir. Januminro, seorang pegawai negeri sipil untuk menumbuhkan kembali hutan di lahan gambut. Berawal dari beberapa hektar saja, hutan di Jl. Lintas Kalimantan antara Palangkaraya - Banjarmasin Km. 30.5 Desa Tumbang Nusa, Kec. Jabiren Raya, Kab. Pulau Pisau, Prop. Kalimantan Tengah mulai dibentuk. Saat ini, hutan gambut yang dibuat oleh lulusan Manajemen Hutan, Universitas Lambung Mangkurat itu sudah seluas 10 hektar. "Penambahan luas lahan itu adalah hasil dari membeli lahan masyarakat sekitar ataupun dari hibah," ujarnya.

Read more: Ir. Januminro - Pengelolaan Hutan Gambut Hak Milik ‘Jumpun Pambelom’

Agustinus Sasundu - Bambu, Suara Merdu dari Sangihe

Bambu sudah sangat melekat pada tradisi Indonesia. Tumbuhan yang mampu memurnikan air di sekitarnya ini sangat dikenal sebagai bahan baku perkakas yang mudah dibentuk dan cenderung tahan lama. Selain itu, dengan rebungnya, bambu juga dikenal sebagai sumber makanan. 

Akan tetapi, karena kelenturan dan bentuk fisik yang berongga, tumbuhan ini sering digunakan sebagai alat musik. Suling adalah salah satu bentuk alat musik bambu yang paling umum dan banyak sekali ditemukan. Masyarakat sunda sangat kental dengan suling, begitu juga dengan masyarakat Jawa atau daerah di pulau yang lain. Bergerak lebih ke utara, musik bambu justru menjadi bagian kuat dari tradisi kesenian Kepulauan Sangihe.

Read more: Agustinus Sasundu - Bambu, Suara Merdu dari Sangihe

Didukung Oleh